Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • ian.achmadjanuar 5:27 AM on June 6, 2011 Permalink | Reply  

    tak terduga 

     
  • Ian Achmad Januar 9:01 PM on April 1, 2010 Permalink | Reply  

    Defining Home 

    All of life is a coming home. Salesmen, secretaries, coal miners, beekeepers, sword swallowers– all of us. All the restless hearts of the world… all trying to find a way home. It’s hard to describe what I felt like then. Picture yourself walking for days in a driving snow. You don’t even know you’re walking in circles– the heaviness of your legs in the drifts; your shouts disappearing into the wind. How small you can feel. How far away home can be.
    Home. The dictionary defines it as both a place of origin… and a goal or destination. And the storm? The storm was all in my mind. Or, as the poet Dante put it… “In the middle of the journey of my life I found myself in a dark wood… for I had lost the right path.” Eventually I would find the right path… but in the most unlikely place. (courtesy of Patch Adams, 1998)

    Konteksnya adalah pulang. Atau rumah? Aku tak benar-benar mengerti, yang jelas aku merindukan rumah, mungkin juga merindukan pulang. Rumah bisa apa saja dan pulang pun bisa kemanapun, selama itu tadi: “a place of origin” atau “a goal or destination”. Kuingin rumahku adalah tempatku kembali. Kuingin aku pulang ke tempat yang kurencanakan untuk kutuju. Bukankah seperti itu hakikat pulang? Lalu bagaimana dengan “pulang ke hati”, apakah itu juga pulang yang hakiki, pulang yang sebenar-benarnya pulang? Jika hati adalah rumah, adalah tempat berpulang, maka rasanya tak semua hati adalah “a place of origin“. Hanya hati yang benar-benar sabar dan kuat menanggung bebanlah yang pantas dijadikan rumah, yang pantas dituju untuk pulang. Hati seperti itu, siapakah yang memiliki? Saudara? Tetangga? Kekasih? Sahabat? Kubilang, hati yang pantas dijadikan rumah adalah hati Mama dan Papaku. Hati yang selalu menanggungi beban yang jauh lebih besar dari beban yang kutanggung. Hati yang selalu jauh lebih sabar dari kesabaran paling tabah yang bisa kutahan. Hati Mama dan Papaku adalah tujuanku, “my place of origin“, “my goal or destination“. Itu jika hati yang dijadikan konteks untuk rumah, untuk berpulang.

    Dalam hubunganku dengan kota-kota, aku masih terus mencari “home” yang paling nyaman untukku. Patch bernarasi bahwa “all of life is a coming home“. Jika itu adalah tentang pulang ke sebuah kota, ke sebuah “rumah”, ke sebuah tempat, maka aku tak sedikitpun memiliki secuilpun dari tempat tujuanku. Perjalanan-perjalananku hari ini dan esok boleh jadi adalah sebuah pencarian tak terhenti untuk terus menemukan “a goal or destination“. Jika bicara kota, maka aku lahir di Malang. Apatah kemudian karena di situ aku terlahir, maka dengan serta merta mendaulat Malang sebagai “home” untukku? Apakah kemudian aku tak bisa melepaskan diri dari segala predikat dan kenyataan yang menghubungkanku dengan Malang? Atau aku masih gamang untuk memutuskan Malang adalah “home” untukku atau bukan? Lalu aku pindah ke Palopo, kota yang kurasakan dengan nyata membentuk pribadiku di masa-masa kritis keremajaanku. Dan Palopo berhasil mengikatku dengan begitu banyak kenangan yang tak sanggup kutinggalkan dan kulewatkan begitu saja dengan mudah sekali. Tidak. Ada kawan-kawan dan sahabat-sahabat di sana yang sudah mengenalku dengan sangat baik sampai ke sumsum tulangku, begitupun aku yang masih mampu merasai mereka bahkan ketika aku terpisah lautan. Lantas apa Palopo menjadi tempat yang bisa kusebut “home”? Lantas apakah semua kenangan yang tercipta dan menimbulkan bekas di memoriku serta merta mengukuhkan Palopo sebagai “home” untukku, sebagai “a place of origin“? Tidak kutemukan jawabannya di kedua kota ini.

    Kemudian kenyataan mendamparkanku lebih jauh lagi ke Bandung ini, kota tempatku menjalani masa-masa kuliah, masa-masa berpredikat mahasiswa. Banyak yang berkata adalah momentum sebagai seorang mahasiswa adalah momentum langka yang diperebutkan ratusan ribu orang. Beruntung aku bisa menang di pergulatan memperebutkan predikat mahasiswa, sehingga aku masuk sebagai –katanya– golongan manusia-manusia yang mendapat pencerahan. Aku tak benar-benar mengerti. Bandung bagiku tidak sepenuhnya mengingatkanku kepada predikatku sebagai mahasiswa, setidaknya masih ada bagian lain dari Bandung yang berhasil kuciptakan sebagai momen-momen pribadi, baik yang perih maupun yang membuatku menari dalam lirih. Nyatanya Bandung tak bisa kujadikan rumahku, tak bisa kujadikan tujuan pulang untukku. Aku membenci Bandung sebenci seorang tukang tidur kepada cahaya lampu yang terang. Tak terbantahkan, namun seringkali si tukang tidur harus mengalah pada angkuhnya cahaya lampu. Hanya bisa menutupi kenyataan dengan bantal, atau melawan kenyataan dengan membuka mata dan bangun berdiri. Seperti itu Bandung buatku setelah tahun 2009 kemaren kulewati dengan segala batu dan liku. Berat, mengejutkan, dan masih saja menjebakku dengan sergapan-sergapan memori yang menusuk-nusuki memoriku di saat aku sedikit kosong pikiran. Aku tak bisa melawan. Kota ini sebenar-benarnya kota yang ingin segera kutinggalkan jauh-jauh.

    Lalu di ujung sana ada Surabaya dan kenangan yang belum terjamah olehku dan kujanjikan untuk segera kusambut setiap impian yang berserakan di sana. Aku harus mampu mencoba pulang ke Surabaya menjemputi segala kemungkinan yang terbuka lebar untukku. Aku mengejari Surabaya setengah mati karena ternyata tak semudah yang kubayangkan. Surabaya bukan semudah duduk berlama-lama menahan dingin beku pendingin bus patas Bandung-Surabaya. Bukan pula mungkin seperti susahnya delapan belas jam lebih bertahan berdiri dan berkeringat di kereta api ekonomi. Itu masih mudah, tapi buatku Surabaya tak semudah itu. Mungkin memang bukan –atau belum– merupakan “home” untukku. Tapi aku terlanjur berjanji untuk menjejaki Surabaya dan menyambut tangan-tangan impian yang terulur untukku. Keterlanjuran yang hari ini kurasakan sebagai sebuah motivasi yang selalu bisa kusyukuri. Aku bahkan belum bisa menerjemahkan Surabaya dengan baik: siapa, apa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana, dan seterusnya. Aku hanya tahu aku punya janji yang harus kutepati. Janji masa lalu seorang wanita dan janji masa depan seorang lelaki. Maka aku kembali ke sebuah pertanyaan: apakah Surabaya adalah rumah dan tujuan pulangku? Apakah karena aku berjanji terhadap “a goal or destination” di sana, maka sekonyong-konyong Surabaya adalah “home” untukku?

    All the restless hearts of the world… all trying to find a way home“. Yes, I am restless and I’m about finding my way home. Either it is Malang, Palopo, or Surabaya, I have not made any decision, my decision, my future goal or destination. Could be Malang where I was born, could be Palopo where there is everlasting memories, and could be Surabaya where I put my promises there.

     
  • Ian Achmad Januar 4:02 PM on March 11, 2010 Permalink | Reply  

    new spaces of posts 

    please refers to this new spaces of mine : http://ian-achmadjanuar.spaces.live.com/

     
  • Ian Achmad Januar 4:21 PM on March 5, 2010 Permalink | Reply  

    Menuju Ngajogjakarta 

    Perjalanan ini mungkin sudah lama ada di kepalaku. seharusnya sudah lama aku jalani perjalanan ini, tapi nyatanya segala kesempatan itu baru Allah berikan hari ini, di waktu ini, bukan di kesempatan yang kemaren ataupun yang esok. tentu ada makna tersendiri setiap kali Allah meluruskan jalan hambanNYA menuju satu rentang perjalanan tertentu. ya, inilah aku hari ini, sudah siap dengan perjalananku ke Jogja. memang Jogja bukanlah kota yang terlalu jauh dari Bandung sini, hanya berselang sekitar 8 jam perjalanan dengan bis ekonomi. ah, lama perjalanan yang sudah biasa kutempuh ketika dulu kuselusuri Palopo-Makassar di masa-masa aku masih bersama Mama-Papa di Palopo. tapi mungkin ke Jogja di hari yang kami tentukan itu akan sedikit lebih lama, karena kami putuskan untuk menempuh Bandung-Jogja dengan kereta api tarif ekonomi yang mungkin menempuh sekitar 12 jam. aku menyebut kami, merujuk kepada Aku dan Arya, sahabatku. dan ada pula beberapa orang lagi yang mungkin akan bergabung minggu depan, aku belum tahu pasti siapa. yang jelas, inilah perjalanku dan Arya. perjalanan yang seluruhnya merupakan ideku, tapi aku butuh teman untuk menempuh perjalanan ini untuk memberi makna yang lebih dari yang bisa kudapatkan ketika aku hanya pergi sendirian. maka Arya-lah pilihanku. kami sudah sering ke beberapa tempat kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di luar kota, tapi belum benar-benar terlalu jauh dari Bandung. kamis siang itu, di sela-sela sebuah seminar bertajuk CEO Lecture, aku spontan mengajak Arya, “Ya, yuk ke Jojga long weekend minggu depan. kan lumayan tuh bisa empat hari.” “boleh juga tuh. ayo ajah. atur-atur lah, pak,” dengan bersemangat Arya menyanggupi menempuh rencana perjalanan ini. “baiklah, ntar kuurus lah semuanya. tapi bantu juga yah,” jawabku balik. “siip,” Arya menyanggupi. maka sejak saat itum Jogja menjadi semakin dekat dalam khayalanku.

    tapi kemudian aku berpikir panjang, apakah aku ke Jogja untuk diriku sendiri atau untuk seorang wanita di sana? apakah ini perjalanan wisata atau sebuah cerita cinta yang baru? apakah akan menjadi satu bingkai cerita tentang aku dan teman-temanku dari Bandung sini atau malah ceritaku dan wanita di sana itu saja? hmm… masih harus kupikirkan panjang sekali.

     
  • Ian Achmad Januar 2:55 AM on February 12, 2010 Permalink | Reply  

    daily qoutes 

    “Participate joyfully in the sorrows of the world. We cannot cure the world of sorrows, but we can choose to live in joy.”

    —Joseph Campbell
    (1904-1987); Author, Editor, Philosopher

    One of the sanest, surest, and most generous joys of life comes from being happy over the good fortune of others.”

    —Robert A. Heinlein
    (1907-1988); science-fiction writer

    “You’re alive. Do something. The directive in life, the moral imperative was so uncomplicated. It could be expressed in single words, not complete sentences. It sounded like this: Look. Listen. Choose. Act.”

    —Barbara Hall
    (1961-); Excerpt from A Summons to New Orleans, 2000

    “I appreciate people who are civil, whether they mean it or not. I think: Be civil. Do not cherish your opinion over my feelings. There’s a vanity to candor that isn’t really worth it. Be kind.”

    —Richard Greenberg
    (1958-); playwright

    “The first step to getting the things you want out of life is this: Decide what you want.”

    —Ben Stein
    (1944-); actor, writer, political commentator

    “What is defeat? Nothing but education; nothing but the first step to something better.”

    —Wendell Phillips
    (1811-1884); abolitionist, orator


     

    “Love is friendship that has caught fire. It is quiet understanding, mutual confidence, sharing and forgiving. It is loyalty through good and bad times. It settles for less than perfection and makes allowances for human weaknesses.”

    —Ann Landers
    (1918-2002); advice columnist

    “Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something else is more important than fear.”

    —James Neil Hollingworth (pseudonym Ambrose Redmoon)
    (1933-1996); writer, former manager of the folk rock band Quicksilver Messenger Service

    “Trials, temptations, disappointments — all these are helps instead of hindrances, if one uses them rightly. They not only test the fiber of character but strengthen it…Every trial endured and weathered in the right spirit makes a soul nobler and stronger than it was before.”

    —James Buckham
    (-); writer, author

    “Call it a clan, call it a network, call it a tribe, call it a family. Whatever you call it, whoever you are, you need one.”

    —Jane Howard
    (-);

    “No soul is desolate as long as there is a human being for whom it can feel trust and reverence.”

    —George Eliot
    (1819-1880); [Mary Ann Evans]; novelist

    “A true friend freely, advises justly, assists readily, adventures boldly, takes all patiently, defends courageously, and continues a friend unchangeably.”

    —William Penn
    (1644-1718); English Quaker leader and Founder of Pennsylvania

    “After all these years, I am still involved in the process of self-discovery. It’s better to explore life and make mistakes than to play it safe. Mistakes are part of the dues one pays for a full life.”

    —Sophia Loren 
    (1934-); actress

    “We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open.”

    —Jawaharlal Nehru
    (1889-1964); 1st Prime Minister Of India

    “Vision is not enough, it must be combined with venture. It is not enough to stare up the steps, we must step up the stairs.”

    —Václav Havel
    (1936-); playwright, essayist

    “Despair shows us the limit of our imagination. Imaginations shared create collaboration, and collaboration creates community, and community inspires social change.”

    —Terry Tempest Williams
    (1955-); Author, Naturalist

    “Don’t waste life in doubts and fears; spend yourself on the work before you, well assured that the right performance of this hour’s duties will be the best preparation for the hours and ages that will follow it.”

    —Ralph Waldo Emerson
    (1803-1882); Philosopher, Poet, Author, Essayist

    “Life is just a chance to grow a soul.”

    —A. Powell Davies
    (1902-1957); minister

    “I like living. I have sometimes been wildly, despairingly, acutely miserable, racked with sorrow, but through it all I still know quite certainly that just to be alive is a grand thing.”

    —Agatha Christie
    (1890-1976); writer

    “Love life and life will love you back. Love people and they will love you back.”

    —Arthur Rubinstein
    (1887-1982); pianist

    “Love the moment. Flowers grow out of dark moments. Therefore, each moment is vital. It affects the whole. Life is a succession of such moments and to live each, is to succeed.”

    —Sister Mary Corita Kent
    (1918-1986); artist, educator

    “Life is short and we have never too much time for gladdening the hearts of those who are traveling the dark journey with us. Oh be swift to love, make haste to be kind.”

    —Henri-Frederic Amiel
    (1821-1881); philosopher, poet, critic

    “There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

    —Albert Einstein
    (1879-1955); theoretical physicist, philosopher

    “Your living is determined not so much by what life brings to you as by the attitude you bring to life; not so much by what happens to you as by the way your mind looks at what happens.”

    —Kahlil Gibran
    (1883-1931); Artist, Poet, And Writer

    “Rejoice in the things that are present; all else is beyond thee.”

    —Michel de Montaigne
    (1533-1592); Essayist, Author

    “Every now and again take a good look at something not made with hands: a mountain, a star, the turn of a stream. There will come to you wisdom and patience and solace and, above all, the assurance that you are not alone in the world.”

    —Sidney Lovett
    (-); minister

    “Hope is always available to us. When we feel defeated, we need only take a deep breath and say, "Yes," and hope will reappear.”

    —Monroe Forester
    (-);

    “Don’t be afraid to be amazing.”

    —Andy Offutt Irwin
    (1957-); storyteller, singer-songwriter

    “The giving of love is an education in itself.”

    —Eleanor Roosevelt
    (1884-1962); First Lady, diplomat, activist

    “All human wisdom is summed up in two words; wait and hope.”

    —Alexandre Dumas
    (1802-1870); Writer

    “It always seems impossible until its done.”

    —Nelson Mandela
    (1918-); former President of South Africa

    “The time you enjoy wasting is not wasted time.”

    —Bertrand Russell
    (1872-1970); Philosopher, Mathematician

    “Today is your day! Your mountain is waiting. So… get on your way.”

    —Theodor "Dr. Seuss" Geisel 
    (1904-1991); Writer, Cartoonist

     
  • Ian Achmad Januar 3:29 PM on February 10, 2010 Permalink | Reply  

    Mengulangi Memori 

    Baru sekali ini lagi, setelah sekian lama, aku rasakan pulang ke rumah dengan puluhan rasa lelah yang bertumpuk di pundak. Hal itu memberitahukan kepadaku bahwa seharian ini begitu banyak hal yang kulakukan. Seharian ini begitu banyak beban yang telah kusepakati untuk kuangkat di pundakku. Ada sisi menyenangkan dari semua kelelahan ini. Bahkan tadinya aku mengira aku akan langsung jatuh terkapar sembarangan di atas ranjangku, tapi nyatanya aku masih punya energi yang luar biasa untuk menceritakan kelelahanku malam ini.

    Dalam perjalananku pulang, sempat kupikirkan untuk mengulangi lagi seluruh memori kurang lebih setahun yang lalu. Memori yang tak ingin kuingat-ingat lagi dengan siapa aku menjalani, tapi jika hari ini tuan putri bersedia menemaniku mengulangi seluruh memori itu dengan warna baru, mengapakah tidak? Memang tidak akan kutanyakan langsung karena toh mungkin pada akhirnya aku bukan butuh tuan putri yang ada menemaniku. Aku butuh banyak orang, aku butuh banyak sahabat, aku butuh banyak inspirator, aku butuh telinga, butuh mata, butuh hati. Namun demikian, keinginan untuk mengulangi seluruh memori dan sengatan perasaan seperti setahun yang lalu entah kenapa bisa nongol begitu saja di tengah-tengah pikiranku yang melanglang buana kemana-mana. Well, mungkin bukan itu juga yang aku benar-benar butuhkan. Masih banyak hal berharga yang harus kulakukan ketimbang mengulangi memori yang sebenarnya adalah kesalahan luar biasa. Hahaha, yah, memori itu seharusnya berwarna hitam, tapi buatku sampai hari ini warnanya masih abu-abu.

    I swear it’s you, I swear it’s you, I swear it’s you that I waited for. I swear it’s you, I swear it’s you, I swear it’s you that my heart beats for. And it ain’t gonna stop, just won’t stop (ONEREPUBLIC – Won’t Stop)

     
  • Ian Achmad Januar 6:31 AM on February 10, 2010 Permalink | Reply  

    Banjir dan ‘Banjir’ 

    Aku tidak membacai apapun semalaman dan pagi ini, sehingga aku kehilangan orientasi dan ide untuk menuangkan hal-hal yang bisa kutuangkan. Sehari kemarin adalah sehari luar biasa lagi (toh, setiap hari memang luar biasa), yang ditutup dengan beberapa sms yang menyenangkan. Sebenarnya seharian kemarin aku kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan orang-orang yang mungkin ada di sekelilingku. Seharian kemarin, sedari pagi aku menunda-nunda untuk ke kampus bertemu dengan dosen matakuliah yang aku ketua kelasnya. Hanya untuk mengkonfirmasi jadwal kuliah minggu ini dan minggu depan sebenarnya, tidak terlalu lama menurutku, tapi tetap saja malas. Akhirnya kuseret saja kakiku dari kamar ke kamar mandi, ke kamar lagi, lalu keluar menuju kampus berjalan kaki. Di kampus pun, aku hanya singgah di perpustakaan pusat untuk mengembalikan buku, kemudian ke program studi untuk menghadap dosen. Selesai semua itu, aku masih malas kemana-mana, tapi seperti biasa, kakiku otomatis melangkah ke sekretariat KM ITB di CC Barat. Ah, sama membosankannya disana, akhirnya kuputuskan pulang saja sebelum hujan menjebakku di kampus. pfffhh….

    Hoo… aku tahu apa yang aku mau ceritakan tentang sehariku kemarin. (Ternyata gak melulu tentang tuan putri akhirnya, hehehe.) Ternyata aku pulang di waktu yang tanggung, walhasil aku terjebak hujan dan berteduh di sebuah warung makan di ujung gang. Yaah,, aku sempat kesal juga, tinggal 100 meter lagi aku sampai di rumah, ahh malah terjebak hujan deras disini. Tapi menarik, karena ternyata hujan deras itu, yang akhirnya menyebabkan ‘banjir’ di warung tempatku berteduh (maklum warung non-permanen pinggir jalan), sedikit-sedikit membuka kesadaranku lagi. Ah, kalau hanya karena ‘banjir’ yang segini saja orang-orang ini mengeluh, bagaimanatah dengan saudara-saudaraku yang di Bale Endah sana? Itu banjir sebenar-benarnya banjir! Aku yakin keluhan mereka jauh lebih mengenaskan daripada keluhanku di tengah ‘banjir’ ini. Aku yakin doa yang mereka lesakkan ke angkasa jauh lebih penuh harap daripada doa-doa di akhir sholatku. Karena kemana lagi mereka harus berharap selain ke Allah, ketika seluruh manusia yang mereka kenal pun sama-sama tidak beradaya mengahadapi banjir kuasa Allah itu. (Banjir sebab tangan manusia yang merusak juga, sih). Aku juga saat itu mengutuki diriku yang sampai hari ini masih mencari-cari alasan untuk tidak bertemu saudara-saudarakuu di sana. Bukan alasan yang dibuat-buat sebenarnya, tapi seringkali alasan itu mengecewakan banyak orang yang mengajakku pergi. Alasan yang secara tersirat tentu menunjukkan seberapa tinggi prioritasku dan kepedulianku terhadap saudara-saudara kita itu. Hhh,… Kemudian di rapat pada sore sampai malam hari kemarin pun, sekali lagi aku dipermalukan (malu dalam hati tentunya) karena ternyata lebih banyak teman-temanku yang peduli terhadap saudara-saudaraku di Bale Endah. Mereka memang belum punya kesempatan terjun jadi relawan, sama sepertiku, tapi aku cemburu pada semangat mereka yang terbakar-bakar dan menyulut api semangat teman-teman yang lain pula. Hmm….

    Ahh,, kututup degan satu lirik lagu ah. Because maybe, you’re gonna be the one that saves me. And after all you’re my wonderwall (OASIS – Wonderwall)

     
  • Ian Achmad Januar 9:15 AM on February 9, 2010 Permalink | Reply  

    Novel Terberat 

    Sudah kuselesaikan 13 dari 15 bab dari novel Tere-Liye, “Moga Bunda Disayang Allah”. Novel ini adalah novel tersulit yang pernah kubaca dan coba selesaikan, karena terlalu mengaduk-aduk perasaan. Aku harus berhenti setiap beberapa paragaraf hanya karena airmataku menggenang menghalangi pandanganku. Belum lagi airmata yang menyusuri pipi akibat tidak tertahan lagi ditambah sesenggukan haru yang harus kutahan-tahan. Agh, malu dong dilihatin temen sekaamar di asrama, nangis-nangis autis sendiri gitu. ahahahaha

    Aku tidak mengerti apa yang membuat Tere-Liye begitu bisa menyentuh (setidaknya menyentuhku, =P) hati setiap yang membaca novel ini. Aku kalah tanding dengan Tere-Liye untuk menahan tangis airmataku. Qintan, Melati dan Karang ditambah cerita Bunda, Ibu, serta tokoh lainnya bagiku terlalu mengharukan. Sangat manusiawi dan tidak mengada-ada. Sangat alami dan begitu mengalir. Sangat penuh sesak dengan keajaiban dan jiwa. Tulisan Tere-Liye ini kusebut: berjiwa! Entah apa yang tere-Liye lakukan ketika menuliskan nove ini. Apakah dia sholat dulu? (Islam kan dia ya?? -_-a) Atau bertapa dulu? Atau apa? Entahlah,aku belum benar-benar mengerti bagaimana Tere-Liye menularkan dan meresonansikan jiwa dia ke dalam setiap tokoh, kemudian meresonansi balik tokoh yang masing-masing memiliki jiwa yangkuat itu kepada setiap pembaca novelnya.

    udah ah… mau lanjut lagi. Ini cuma buat ngetes Windows Live writer doang kok, =P

     
  • Ian Achmad Januar 6:15 AM on February 9, 2010 Permalink | Reply  

    KM ITB – Kementerian Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan 2010 

    Kementerian Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan (MPK) sebagai Sebuah Sistem    

    Sistem MPK yang dipandang sebagai sebuah blackbox berimplikasi terhadap kebutuhan untuk mendefinisikan secara mendetail hal-hal yang perlu dilakukan oleh MPK untuk mewujudkan input menjadi output, untuk mewujudkan potensi menjadi hasil dan tujuan. Pendefinisian hal-hal yang dilakukan MPK juga didukung dengan sarana dan prasarana yang tersedia serta tetap berpedoman kepada aturan-aturan dan batasan-batasan yang telah ditentukan oleh otoritas kebijakan yang lebih tinggi.

    MPK yang dipandang secara blackbox seperti diagram di atas, membuat definisi sistem MPK bisa menjadi sangat luas dan siapapun leluasa untuk mendefinisikan setiap kegiatan yang relevan terhadap proses mengolah input menjadi output. Hal ini menjadi peluang bagi MPK untuk berkreasi seleluasa mungkin selama proses atau kegiatan yang dilakukan memang relevan. Namun tentu tidak dapat dihindari bahwa terdapat kelemahan dalam cara pandang seperti ini, salahsatunya yaitu ketidakmampuan MPK untuk menyelesaikan setiap kegiatan akibat dari penentuan bidang kerja yang terlalu luas. Kedua hal yang saling bertolah belakang tadi tentu dapat dipertemukan dengan cara memilih dan memilah kegiatan-kegiatan yang tidak hanya relevan, tetapi juga sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki serta mampu mencapa tujuan atau visi-misi organisasi, dalam hal ini visi-misi Ketua Kabinet KM ITB sebagai otoritas kepemimpinan tertinggi di struktur kabinet KM ITB.

     

    Definisi Potensi pada Kementerian Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan (MPK)    

    Himpunan Mahasiswa Jurusan

    Anggaran Rumah Tangga KM-ITB pada Bab IV Tentang Himpunan Mahasiswa Jurusan Pasal 18 mencantumkan bahwa “Himpunan Mahasiswa Jurusan adalah organisasi yang berada di Institut Teknologi Bandung yang menghimpun mahasiswa Institut Teknologi Bandung sesuai dengan jurusannya di Institut Teknologi Bandung, yang telah melakukan pemberitahuan secara resmi atau registrasi ke KM-ITB.”

    Unit Kegiatan Mahasiswa

    Unit Kegiatan Mahasiswa didefinisikan pada Anggaran Rumah Tangga KM-ITB pada Bab V Tentang Unit Kegiatan Mahasiswa Pasal 24 sebagai “Unit Kegiatan Mahasiswa adalah organisasi yang berada di Institut Teknologi Bandung yang menghimpun mahasiswa Institut Teknologi Bandung untuk berkegiatan dalam bidang-bidang yang terdiri dari keagamaan, pendidikan, olah raga, media, kesenian dan kebudayaan, yang telah melakukan pemberitahuan secara resmi atau registrasi ke KM-ITB.

     

    Definisi Hasil dari Kementerian Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan (MPK)    

    Pelayanan Masyarakat

    Pelayanan masyarakat akan lebih banyak dikaitkan dengan tindakan-tindakan tanggap darurat dalam menyikapi setiap bencana, baik yang diprediksikan akan muncul maupun yang terjadi secara tiba-tiba. Pelayanan masyarakat dalam bentuk tindakan tanggap bencana ini bertujuan untuk menyalurkan bantuan-bantuan yang berhasil dihimpun di lingkungan ITB, baik dari mahasiswa, dosen, pegawai, maupun entitas lain yang menyumbangkan bantuan melalui KM ITB. Selain penyaluran bantuan, tindakan tanggap bencana lain yang dilakukan adalah mengirimkan sukarelawan ke daerah bencana yang sudah barang tentu telah disiapkan dari jauh hari melalui fasilitas workshop dan pelatihan yang dilakukan kementerian di bawah MPK, yaitu Kementerian Pengabdian Masyarakat.

    Pemberdayaan Masyarakat

    Pemberdayaan masyarakat mengacu kepada pola pengabdian masyarakat yang menekankan kepada kerjasama dan peran aktif yang lebih besar di masyarakat sasaran, ketimbang peran dari mahasiswa yang mengadakan kegiatan. Pemberdayaan masyarakat yang cukup konkrit diantaranya adalah peneraan teknologi sederhana dan tepat guna kepada masyarakat. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mengenalkan teknologi dan mengajarkan kepada masyarakat untuk mengelola dan memelihara teknologi yang telah diterapkan. Peran masyarakat untuk mengelola dan memelihara teknologi yang diterapkan menjadi sangat penting dan kritis setelah mahasiswa tidak lagi membantu masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan.

    Pengembangan Masyarakat

    Buku Community Organizing and Development (Rubin and Rubin, 2001) menjelaskan secara gamblang hal berikut:

    Community development occurs when people strengthen the bonds within their neighborhoods, build social networks, dan form their organizations to provide long-term capacity for problem solving.

    Penjelasan singkat di atas tidak dikategorikan sebagai definisi pengembangan masyarakat, namun dimasukkan ke dalam ukuran pencapaian (ukuran performansi) sebuah program pengembangan masyarakat. Ada 3 (tiga) pencapaian yang dijelaskan pada kutipan di atas agar sebuah program pengabdian masyarakat termasuk kategori pengembangan masyarakat, yaitu: ikatan di dalam lingkungan itu sendiri (bonds within their neighborhood), jejaring sosial (social network), dan kemampuan memecahkan masalah dalam jangka panjang (provide long-term capacity for problem solving).

     

    Peran Masing-Masing Kementerian di Bawah Kementerian Koordinator Pengembangan Kemahasiswaan (MPK)

    Bagan di atas menyiratkan bahwa setiap kementerian yang ada di bawah MPK memiliki peran dan fungsi masing-masing yang bersifat sekuensial, namun tetap fleksibel. Sekuensial dalam pengertian bahwa terdapat peran-peran khusus yang telah dibagikan kepada setiap kementerian sehingga setiap output berupa pengabdian masyarakat ataupun pengembangan kemahasiswaan dapat tercapai dengan baik dengan sesedikit mungkin tumpang-tindih porsi dari setiap kementerian. Sedangkan fleksibel mengandung pengertian bahwa, peran-peran yang ditetapkan terhadap setiap kementerian tidak kaku dan selalu harus berputar dalam lingkaran, akan tetapi dapat saja suatu saat kementerian yang satu mengambil sebagian peran dan porsi kementerian yang lain sebagai bagian dari kerjasama tim untuk mewujudkan tujuan organsasi.

    Kementerian Keprofesian dan Inovasi (Proinov)

    (ditunda)

    Kementerian Pengabdian Masyarakat (PM)

    (ditunda)

    Kementerian Ekonomi

    (ditunda)

     
  • Ian Achmad Januar 3:15 AM on February 9, 2010 Permalink | Reply  

    Types of Girls [from www.metacafe.com] 

    CD-ROM GIRLS

    She is always faster and faster.

     

    ***********

     

    EMAIL GIRLS

    Every ten things she says, eight are nonsense .

     

    ***********

     

    HARD DISK GIRLS

    she remembers everything, FOREVER

     

    ***********

     

    INTERNET GIRLS

    Difficult to access

     

    ***********

     

    MULTIMEDIA GIRLS

    She make horrible thing look beautiful

     

    ***********

     

    SCREENSAVER GIRLS

    She is good for nothing but at least she is fun

     

    ***********

     

    RAM GIRLS

    she forget about you, the moment turn her off

     

    ***********

     

    WINDOW GIRLS

    everyone know that she can’t do a thing right, but no one can live without her.

     

    ***********

     

    VIRUS GIRLS

    Also known as “wife” when u are not expecting her, she comes, install herself and uses all ur resources. If u try to uninstall her u will lose something, if u don’t try 2 uninstall her you will lose everything.. .

     

    ***********

     

    SERVER GIRLS

    Always busy when you need her.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.