Defining Home
All of life is a coming home. Salesmen, secretaries, coal miners, beekeepers, sword swallowers– all of us. All the restless hearts of the world… all trying to find a way home. It’s hard to describe what I felt like then. Picture yourself walking for days in a driving snow. You don’t even know you’re walking in circles– the heaviness of your legs in the drifts; your shouts disappearing into the wind. How small you can feel. How far away home can be.
Home. The dictionary defines it as both a place of origin… and a goal or destination. And the storm? The storm was all in my mind. Or, as the poet Dante put it… “In the middle of the journey of my life I found myself in a dark wood… for I had lost the right path.” Eventually I would find the right path… but in the most unlikely place. (courtesy of Patch Adams, 1998)
Konteksnya adalah pulang. Atau rumah? Aku tak benar-benar mengerti, yang jelas aku merindukan rumah, mungkin juga merindukan pulang. Rumah bisa apa saja dan pulang pun bisa kemanapun, selama itu tadi: “a place of origin” atau “a goal or destination”. Kuingin rumahku adalah tempatku kembali. Kuingin aku pulang ke tempat yang kurencanakan untuk kutuju. Bukankah seperti itu hakikat pulang? Lalu bagaimana dengan “pulang ke hati”, apakah itu juga pulang yang hakiki, pulang yang sebenar-benarnya pulang? Jika hati adalah rumah, adalah tempat berpulang, maka rasanya tak semua hati adalah “a place of origin“. Hanya hati yang benar-benar sabar dan kuat menanggung bebanlah yang pantas dijadikan rumah, yang pantas dituju untuk pulang. Hati seperti itu, siapakah yang memiliki? Saudara? Tetangga? Kekasih? Sahabat? Kubilang, hati yang pantas dijadikan rumah adalah hati Mama dan Papaku. Hati yang selalu menanggungi beban yang jauh lebih besar dari beban yang kutanggung. Hati yang selalu jauh lebih sabar dari kesabaran paling tabah yang bisa kutahan. Hati Mama dan Papaku adalah tujuanku, “my place of origin“, “my goal or destination“. Itu jika hati yang dijadikan konteks untuk rumah, untuk berpulang.
Dalam hubunganku dengan kota-kota, aku masih terus mencari “home” yang paling nyaman untukku. Patch bernarasi bahwa “all of life is a coming home“. Jika itu adalah tentang pulang ke sebuah kota, ke sebuah “rumah”, ke sebuah tempat, maka aku tak sedikitpun memiliki secuilpun dari tempat tujuanku. Perjalanan-perjalananku hari ini dan esok boleh jadi adalah sebuah pencarian tak terhenti untuk terus menemukan “a goal or destination“. Jika bicara kota, maka aku lahir di Malang. Apatah kemudian karena di situ aku terlahir, maka dengan serta merta mendaulat Malang sebagai “home” untukku? Apakah kemudian aku tak bisa melepaskan diri dari segala predikat dan kenyataan yang menghubungkanku dengan Malang? Atau aku masih gamang untuk memutuskan Malang adalah “home” untukku atau bukan? Lalu aku pindah ke Palopo, kota yang kurasakan dengan nyata membentuk pribadiku di masa-masa kritis keremajaanku. Dan Palopo berhasil mengikatku dengan begitu banyak kenangan yang tak sanggup kutinggalkan dan kulewatkan begitu saja dengan mudah sekali. Tidak. Ada kawan-kawan dan sahabat-sahabat di sana yang sudah mengenalku dengan sangat baik sampai ke sumsum tulangku, begitupun aku yang masih mampu merasai mereka bahkan ketika aku terpisah lautan. Lantas apa Palopo menjadi tempat yang bisa kusebut “home”? Lantas apakah semua kenangan yang tercipta dan menimbulkan bekas di memoriku serta merta mengukuhkan Palopo sebagai “home” untukku, sebagai “a place of origin“? Tidak kutemukan jawabannya di kedua kota ini.
Kemudian kenyataan mendamparkanku lebih jauh lagi ke Bandung ini, kota tempatku menjalani masa-masa kuliah, masa-masa berpredikat mahasiswa. Banyak yang berkata adalah momentum sebagai seorang mahasiswa adalah momentum langka yang diperebutkan ratusan ribu orang. Beruntung aku bisa menang di pergulatan memperebutkan predikat mahasiswa, sehingga aku masuk sebagai –katanya– golongan manusia-manusia yang mendapat pencerahan. Aku tak benar-benar mengerti. Bandung bagiku tidak sepenuhnya mengingatkanku kepada predikatku sebagai mahasiswa, setidaknya masih ada bagian lain dari Bandung yang berhasil kuciptakan sebagai momen-momen pribadi, baik yang perih maupun yang membuatku menari dalam lirih. Nyatanya Bandung tak bisa kujadikan rumahku, tak bisa kujadikan tujuan pulang untukku. Aku membenci Bandung sebenci seorang tukang tidur kepada cahaya lampu yang terang. Tak terbantahkan, namun seringkali si tukang tidur harus mengalah pada angkuhnya cahaya lampu. Hanya bisa menutupi kenyataan dengan bantal, atau melawan kenyataan dengan membuka mata dan bangun berdiri. Seperti itu Bandung buatku setelah tahun 2009 kemaren kulewati dengan segala batu dan liku. Berat, mengejutkan, dan masih saja menjebakku dengan sergapan-sergapan memori yang menusuk-nusuki memoriku di saat aku sedikit kosong pikiran. Aku tak bisa melawan. Kota ini sebenar-benarnya kota yang ingin segera kutinggalkan jauh-jauh.
Lalu di ujung sana ada Surabaya dan kenangan yang belum terjamah olehku dan kujanjikan untuk segera kusambut setiap impian yang berserakan di sana. Aku harus mampu mencoba pulang ke Surabaya menjemputi segala kemungkinan yang terbuka lebar untukku. Aku mengejari Surabaya setengah mati karena ternyata tak semudah yang kubayangkan. Surabaya bukan semudah duduk berlama-lama menahan dingin beku pendingin bus patas Bandung-Surabaya. Bukan pula mungkin seperti susahnya delapan belas jam lebih bertahan berdiri dan berkeringat di kereta api ekonomi. Itu masih mudah, tapi buatku Surabaya tak semudah itu. Mungkin memang bukan –atau belum– merupakan “home” untukku. Tapi aku terlanjur berjanji untuk menjejaki Surabaya dan menyambut tangan-tangan impian yang terulur untukku. Keterlanjuran yang hari ini kurasakan sebagai sebuah motivasi yang selalu bisa kusyukuri. Aku bahkan belum bisa menerjemahkan Surabaya dengan baik: siapa, apa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana, dan seterusnya. Aku hanya tahu aku punya janji yang harus kutepati. Janji masa lalu seorang wanita dan janji masa depan seorang lelaki. Maka aku kembali ke sebuah pertanyaan: apakah Surabaya adalah rumah dan tujuan pulangku? Apakah karena aku berjanji terhadap “a goal or destination” di sana, maka sekonyong-konyong Surabaya adalah “home” untukku?
“All the restless hearts of the world… all trying to find a way home“. Yes, I am restless and I’m about finding my way home. Either it is Malang, Palopo, or Surabaya, I have not made any decision, my decision, my future goal or destination. Could be Malang where I was born, could be Palopo where there is everlasting memories, and could be Surabaya where I put my promises there.